Berawal dari
informasi yang diposting di grup ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi
Seluruh Indonesia) di Facebook, tergerak hati saya untuk bergabung menjadi
relawan bagi korban erupsi Gunung Kelud di Kediri. Tanpa persiapan yang
memadai, selepas mendapat konfirmasi dari teman yang sudah lebih dulu berada
disana, saya berangkat menuju Kediri bersama dengan orang tua yang kebetulan
hendak menuju Kediri untuk suatu acara.
Hujan deras menyambut
kedatangan saya di Masjid Annur Pare siang itu, tempat dimana ±2500 pengungsi
korban erupsi Gunung Kelud tinggal sementara. Di Masjid Annur yang lumayan
besar ini, terdapat beberapa posko dengan fungsi masing-masing.
Kesekretariatan, kesehatan, dapur umum dan beberapa posko logistik. Tujuan saya
adalah posko kesehatan. Setelah bersalam-salam ria dengan beberapa kawan baru,
saya memulai tugas dengan menata dan menyortir obat-obatan di posko kesehatan. Kenapa
disortir? Mencegah obat kadaluwarsa digunakan. Sebab, you know lah, kalau di tempat beginian, ada saja obat kadaluwarsa
disumbangkan.
Selain
obat-obatan, peralatan bayi dan perempuan seperti pampers dan pembalut
diletakkan disini. Segera setelah beberapa jam disini, rasa bosan menghampiri.
Sejujurnya saya ingin melakukan sesuatu yang lebih bisa membawa saya banyak
berinteraksi dengan pengungsi secara langsung. Untunglah, sesudah maghrib saya
diminta membantu logistik 3, mendata dan membagikan selimut dan tikar kepada
para pengungsi. Siapa sangka, ternyata pada akhirnya itu menjadi tugas saya
tiap malam. Bisa dibilang semacam kordinatornya. Seru, berinteraksi langsung
dengan pengungsi, tapi juga capek. Capek kaki, karena harus jalan-jalan
keliling (dan bolak-balik) ke blok-blok pengungsi. Capek mulut, karena saya
harus teriak-teriak memanggil dan menanyai pengungsi di tengah keramaian yang
sangat. Capek pikiran juga, karena tak jarang pengungsi komplain ini itu dan
saya tidak bisa menjamin apa-apa. Jika saya mulai mendata habis maghrib, jam 11
malam pekerjaan tersebut baru selesai. Bahkan suatu waktu saya baru bisa mulai
membagi selimut jam 11 malam. Tapi capek itu tak lebih berarti dibanding
kepuasan batin dan rasa terima kasih saya kepada saudara-saudara disana, yang
mengajarkan saya berbagai hal. Kenapa baru mulai mendata dan membagi selimut
dan tikar malam hari? Karena siang hari tak kalah sibuk, mendata dan
mendistribusi logistik ke posko-posko lain. Logistik 3 memang pusat barang
donasi masuk. Saya memang jadi tukang angkut barang disini, hehe. Tak masalah,
itu menunjukkan saya cewek kuat (angkat-angkat barang), kan? Hihihi.
Oh ya, mengapa
para pengungsi komplain mengenai selimut dan tikar, tak lain tak bukan karena
jumlahnya tak memadai. Waktu saya disana, bantuan selimut dan tikar memang
tidak terlalu banyak. Untuk satu keluarga terdiri dari berapapun anggotanya,
jatah selimut hanya dua. Jika ada balita, ditambah satu selimut bayi (yang
barangnya baru datang besoknya). Sementara, jatah tikar hanya satu. Donatur
lebih memilih menyumbang mie instan, yang bahkan jika ditumpuk hampir menyentuh
langit-langit ruangan setinggi ± 4 meter dan memenuhi hampir separuh ruangan
seukuran kira-kira 10 x 5 meter (ruangan logistik 3). Itu baru di logistik 3,
tidak tahu di logistik 1 dan 2. Mie instan memang dibutuhkan, tapi tidak
selalu. Tapi bagaimanapun, terima kasih tak terkira tetap harus dihaturkan pada
donatur yang baik hati. Dengar-dengar dari teman relawan yang masih disana,
kemarin logistik bantuan donatur yang tersisa dibagikan langsung kepada para
pengungsi yang sudah mulai pulang ke rumah masing-masing. Jadi, bantuan anda
tidak akan sia-sia, hehehe.
Beberapa kali
saya sempat mengobrol dengan pengungsi. Dengan bapak-bapak, ibu-ibu, mbah-mbah,
adik-adik dan mbak-mbak. Intinya hampir semua kategori umur. Seorang bapak
berusia sekitar separuh abad –yang saya lupa namanya- bercerita kepada saya,
“Saya mengungsi tidak bawa apa-apa, hanya pakaian di badan. Mbak lihat? Disini
saya bisa tertawa, sebab makan diberi, sakit diobati, berkumpul dengan saudara
dan tetangga. Tapi sebenarnya saya nangis dalam hati, mbak. Rumah saya hancur,
tanaman cabe saya sebentar lagi bisa dipanen, eh mati kena erupsi. Padahal,
modal tanam cabe itu utang ke bank, mbak. Kalau tanaman cabe saya mati ya saya
nggak bisa bayar utang ke bank. Saya nggak bisa dapat uang, saya nggak bisa
perbaiki rumah”. Bapak itu bercerita dalam bahasa Jawa, tentu saja. Saya
terjemahkan untuk anda. Saya tentu tidak bisa membawa anda pada emosi yang sama
dengan saya, ketika mendengar penuturan bapak itu. Saya juga tidak bermaksud
mengeksploitasi penderitaan seorang saudara. Saya hanya ingin bercerita kepada
anda, bahwa ini, bersama dengan rangkaian puzzle yang lain di sana, menjelma
menjadi salah satu pelajaran hidup untuk saya.
Banyak lagi
cerita yang saya dapatkan dari sana. Tentang adek bayi berusia 2 bulan, yang
sudah ditinggal ibunya. Saya tak bisa membayangkan anak sekecil itu harus
mengungsi, dan tanpa belaian seorang ibu di tempat seperti itu. Juga tentang
nenek yang selalu saya sapa, tapi tak pernah membalas sapaan saya. Saya
husnudzon saja, mungkin ada sesuatu yang menghalangi beliau membalas sapaan
saya. Nenek itu sudah sangat tua, mungkin 70 tahun ke atas. Beliau tinggal di
kamar mandi. Ya, di kamar mandi. Di bangunan kamar mandi, sekira 3 meter dari
pintu kamar mandi. Di bangunan kamar mandi memang sekira belasan orang tinggal
di situ. Saya tak tahu kenapa mereka memilih di situ, mengingat suasana dan
kondisinya sangat sangat tidak nyaman. Bau, kotor dan basah. Sekali waktu saya
meminta beliau dan saudara-saudara lain untuk pindah ke atas, ke ruangan masjid
yang masih bisa menampung. Tapi entah, sampai saya pulang mereka masih betah
disana. Saya hanya sedih, di usia setua
itu beliau sendirian, tanpa ada keluarga (sepengamatan saya). Saya teringat
orang tua saya, yang beranjak tua. Saya takut mereka sendirian di masa tua.
Saya tidak tahu rasanya, tapi saya tahu ibu saya tidak suka ditinggal
anak-anaknya. Huaaa. *sorry OOT.
Saya juga
sempat bertanya ke seorang ibu berjilbab –yang saya juga lupa namanya- mengenai
status ekonomi kebanyakan pengungsi. Bukan apa-apa, saya hanya ingin tahu,
untuk memahami mereka. Ibu itu bilang, kebanyakan memang menengah ke bawah.
Para bapak bekerja di tegalan, menanam
cabe dan tanaman lain. Ibu-ibu di rumah mengurus rumah tangga. Tapi bukan
berarti tidak ada yang menengah ke atas lho. Ibu itu bercerita, seorang
tetangganya datang ke posko membawa serta 3 mobilnya, dan memilih tidur di
mobil dan jarang mengambil jatah makan. Saya tidak tahu yang mana beliau dan
yang mana mobilnya, wong memang banyak mobil disitu (milik pejabat yang berkunjung dan instansi-instansi).
Pikir saya, ya gapapa sih, memang kenapa? Hak dia, kan? Hehe. Cuma saya baru
tahu, ada juga pengungsi seperti ini. Saya juga bertanya-tanya kenapa mereka
tidak ke rumah saudara saja, atau ke hotel saja (depan Masjid Annur ada hotel).
Habis kelihatannya ada kesenjangan sosial banget. Tetangganya berdesakan di
barak, mengantri berjam-jam untuk mendapat jatah makan, dia enak tidur di
mobil, makan di luar. Lho, kok saya yang protes ya? Hehehe. Saya Cuma protes
dalam hati, kok. Ibu itu kemudian melanjutkan, rumah tetangganya itu juga rusak
berat. Langsung saja saya timpali, “mobilnya dijual satu kan bisa bu?”, lantas
kami tertawa bersama.
Sebenarnya
banyak yang mau saya ceritakan, tapi nanti kepanjangan catatannya hehe.
Kapan-kapan akan saya sambung, saya ingin menceritakan sahabat-sahabat baru
saya. Mbak Puji, Mbak Ayu, Mas Wawan, Mas Umam, Dek Paijo (Riski hihi), Kak
Fairuz, dan masih banyak lagi yang ga bisa disebutkan satu-satu.
oya ini ada foto teman-teman relawan, ambil dari punya teman hehe. Kameranya mbak Ayu dari UII,


0 komentar:
Posting Komentar