Selasa, 25 Februari 2014

Oleh-oleh dari Gunung Kelud



Berawal dari informasi yang diposting di grup ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia) di Facebook, tergerak hati saya untuk bergabung menjadi relawan bagi korban erupsi Gunung Kelud di Kediri. Tanpa persiapan yang memadai, selepas mendapat konfirmasi dari teman yang sudah lebih dulu berada disana, saya berangkat menuju Kediri bersama dengan orang tua yang kebetulan hendak menuju Kediri untuk suatu acara.
Hujan deras menyambut kedatangan saya di Masjid Annur Pare siang itu, tempat dimana ±2500 pengungsi korban erupsi Gunung Kelud tinggal sementara. Di Masjid Annur yang lumayan besar ini, terdapat beberapa posko dengan fungsi masing-masing. Kesekretariatan, kesehatan, dapur umum dan beberapa posko logistik. Tujuan saya adalah posko kesehatan. Setelah bersalam-salam ria dengan beberapa kawan baru, saya memulai tugas dengan menata dan menyortir obat-obatan di posko kesehatan. Kenapa disortir? Mencegah obat kadaluwarsa digunakan. Sebab, you know lah, kalau di tempat beginian, ada saja obat kadaluwarsa disumbangkan.
Selain obat-obatan, peralatan bayi dan perempuan seperti pampers dan pembalut diletakkan disini. Segera setelah beberapa jam disini, rasa bosan menghampiri. Sejujurnya saya ingin melakukan sesuatu yang lebih bisa membawa saya banyak berinteraksi dengan pengungsi secara langsung. Untunglah, sesudah maghrib saya diminta membantu logistik 3, mendata dan membagikan selimut dan tikar kepada para pengungsi. Siapa sangka, ternyata pada akhirnya itu menjadi tugas saya tiap malam. Bisa dibilang semacam kordinatornya. Seru, berinteraksi langsung dengan pengungsi, tapi juga capek. Capek kaki, karena harus jalan-jalan keliling (dan bolak-balik) ke blok-blok pengungsi. Capek mulut, karena saya harus teriak-teriak memanggil dan menanyai pengungsi di tengah keramaian yang sangat. Capek pikiran juga, karena tak jarang pengungsi komplain ini itu dan saya tidak bisa menjamin apa-apa. Jika saya mulai mendata habis maghrib, jam 11 malam pekerjaan tersebut baru selesai. Bahkan suatu waktu saya baru bisa mulai membagi selimut jam 11 malam. Tapi capek itu tak lebih berarti dibanding kepuasan batin dan rasa terima kasih saya kepada saudara-saudara disana, yang mengajarkan saya berbagai hal. Kenapa baru mulai mendata dan membagi selimut dan tikar malam hari? Karena siang hari tak kalah sibuk, mendata dan mendistribusi logistik ke posko-posko lain. Logistik 3 memang pusat barang donasi masuk. Saya memang jadi tukang angkut barang disini, hehe. Tak masalah, itu menunjukkan saya cewek kuat (angkat-angkat barang), kan? Hihihi.
Oh ya, mengapa para pengungsi komplain mengenai selimut dan tikar, tak lain tak bukan karena jumlahnya tak memadai. Waktu saya disana, bantuan selimut dan tikar memang tidak terlalu banyak. Untuk satu keluarga terdiri dari berapapun anggotanya, jatah selimut hanya dua. Jika ada balita, ditambah satu selimut bayi (yang barangnya baru datang besoknya). Sementara, jatah tikar hanya satu. Donatur lebih memilih menyumbang mie instan, yang bahkan jika ditumpuk hampir menyentuh langit-langit ruangan setinggi ± 4 meter dan memenuhi hampir separuh ruangan seukuran kira-kira 10 x 5 meter (ruangan logistik 3). Itu baru di logistik 3, tidak tahu di logistik 1 dan 2. Mie instan memang dibutuhkan, tapi tidak selalu. Tapi bagaimanapun, terima kasih tak terkira tetap harus dihaturkan pada donatur yang baik hati. Dengar-dengar dari teman relawan yang masih disana, kemarin logistik bantuan donatur yang tersisa dibagikan langsung kepada para pengungsi yang sudah mulai pulang ke rumah masing-masing. Jadi, bantuan anda tidak akan sia-sia, hehehe.
Beberapa kali saya sempat mengobrol dengan pengungsi. Dengan bapak-bapak, ibu-ibu, mbah-mbah, adik-adik dan mbak-mbak. Intinya hampir semua kategori umur. Seorang bapak berusia sekitar separuh abad –yang saya lupa namanya- bercerita kepada saya, “Saya mengungsi tidak bawa apa-apa, hanya pakaian di badan. Mbak lihat? Disini saya bisa tertawa, sebab makan diberi, sakit diobati, berkumpul dengan saudara dan tetangga. Tapi sebenarnya saya nangis dalam hati, mbak. Rumah saya hancur, tanaman cabe saya sebentar lagi bisa dipanen, eh mati kena erupsi. Padahal, modal tanam cabe itu utang ke bank, mbak. Kalau tanaman cabe saya mati ya saya nggak bisa bayar utang ke bank. Saya nggak bisa dapat uang, saya nggak bisa perbaiki rumah”. Bapak itu bercerita dalam bahasa Jawa, tentu saja. Saya terjemahkan untuk anda. Saya tentu tidak bisa membawa anda pada emosi yang sama dengan saya, ketika mendengar penuturan bapak itu. Saya juga tidak bermaksud mengeksploitasi penderitaan seorang saudara. Saya hanya ingin bercerita kepada anda, bahwa ini, bersama dengan rangkaian puzzle yang lain di sana, menjelma menjadi salah satu pelajaran hidup untuk saya.
Banyak lagi cerita yang saya dapatkan dari sana. Tentang adek bayi berusia 2 bulan, yang sudah ditinggal ibunya. Saya tak bisa membayangkan anak sekecil itu harus mengungsi, dan tanpa belaian seorang ibu di tempat seperti itu. Juga tentang nenek yang selalu saya sapa, tapi tak pernah membalas sapaan saya. Saya husnudzon saja, mungkin ada sesuatu yang menghalangi beliau membalas sapaan saya. Nenek itu sudah sangat tua, mungkin 70 tahun ke atas. Beliau tinggal di kamar mandi. Ya, di kamar mandi. Di bangunan kamar mandi, sekira 3 meter dari pintu kamar mandi. Di bangunan kamar mandi memang sekira belasan orang tinggal di situ. Saya tak tahu kenapa mereka memilih di situ, mengingat suasana dan kondisinya sangat sangat tidak nyaman. Bau, kotor dan basah. Sekali waktu saya meminta beliau dan saudara-saudara lain untuk pindah ke atas, ke ruangan masjid yang masih bisa menampung. Tapi entah, sampai saya pulang mereka masih betah disana.  Saya hanya sedih, di usia setua itu beliau sendirian, tanpa ada keluarga (sepengamatan saya). Saya teringat orang tua saya, yang beranjak tua. Saya takut mereka sendirian di masa tua. Saya tidak tahu rasanya, tapi saya tahu ibu saya tidak suka ditinggal anak-anaknya. Huaaa. *sorry OOT.
Saya juga sempat bertanya ke seorang ibu berjilbab –yang saya juga lupa namanya- mengenai status ekonomi kebanyakan pengungsi. Bukan apa-apa, saya hanya ingin tahu, untuk memahami mereka. Ibu itu bilang, kebanyakan memang menengah ke bawah. Para bapak bekerja di tegalan, menanam cabe dan tanaman lain. Ibu-ibu di rumah mengurus rumah tangga. Tapi bukan berarti tidak ada yang menengah ke atas lho. Ibu itu bercerita, seorang tetangganya datang ke posko membawa serta 3 mobilnya, dan memilih tidur di mobil dan jarang mengambil jatah makan. Saya tidak tahu yang mana beliau dan yang mana mobilnya, wong memang banyak mobil disitu (milik  pejabat yang berkunjung dan instansi-instansi). Pikir saya, ya gapapa sih, memang kenapa? Hak dia, kan? Hehe. Cuma saya baru tahu, ada juga pengungsi seperti ini. Saya juga bertanya-tanya kenapa mereka tidak ke rumah saudara saja, atau ke hotel saja (depan Masjid Annur ada hotel). Habis kelihatannya ada kesenjangan sosial banget. Tetangganya berdesakan di barak, mengantri berjam-jam untuk mendapat jatah makan, dia enak tidur di mobil, makan di luar. Lho, kok saya yang protes ya? Hehehe. Saya Cuma protes dalam hati, kok. Ibu itu kemudian melanjutkan, rumah tetangganya itu juga rusak berat. Langsung saja saya timpali, “mobilnya dijual satu kan bisa bu?”, lantas kami tertawa bersama.
Sebenarnya banyak yang mau saya ceritakan, tapi nanti kepanjangan catatannya hehe. Kapan-kapan akan saya sambung, saya ingin menceritakan sahabat-sahabat baru saya. Mbak Puji, Mbak Ayu, Mas Wawan, Mas Umam, Dek Paijo (Riski hihi), Kak Fairuz, dan masih banyak lagi yang ga bisa disebutkan satu-satu. 
oya ini ada foto teman-teman relawan, ambil dari punya teman hehe. Kameranya mbak Ayu dari UII,

0 komentar:

Posting Komentar